
Tahun ini untuk ke sekian kali TPA Darussalam mengikuti Festival tahunan yang diadakan oleh Badan Koordinasi TKA-TPA Kota Yogyakarta yang diberi bandrol Festival Anak Sholeh Indonesia. Di dalam ajang ini digelar berbagai macam lomba yang terkait dengan dunia TKA-TPA yang jumlahnya sekitar 36 cabang lomba.Tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana tahun-tahun sebelumnya kita sudah selalu siap sedia jika mendekati hari diadakannya FASI tersebut. Tapi untuk tahun ini kebetulan FASI diadakan pasca Iedul Fitri. Jadi cukup merepotkan juga, karena waktu banyak dari ustadz-ustadzah yang masih sibuk mudik dan KBM TPA pun juga dimulai kembali setelah libur panjang. Alhasil untuk keikutsertaan TPA Darussalam pada FASI tahun 2008, kita persiapkan dengan persiapan yang seadanya dan tanpa target yang muluk-muluk.
Sebelum mengikuti FASI di tingkat kota terlebih dulu kita mengikuti FASI di tingkat Rayon (kecamatan). Ada yang istimewa di dalam penyelenggaran FASI di tingkat Rayon Wirobrajan tahun ini. Tahun ini oleh sang ketua Rayon Ust. Andi Prasetyo diplot sedemikian rupa agar menjadi sebuah gebrakan, yang harapannya akan menjadi awal yang positif untuk penyelenggaraan FASI Rayon di tahun-tahun mendatang. Penyelenggaraan FASI rayon tahun ini sedikit menjiplak penyelenggaan di tingkat kota, yaitu menggunakan satu tempat yang luas dan mempunyai ruangan yang banyak, serta diselenggarakan hanya dalam jangka waktu satu hari. Berbeda dengan tahun sebelumnya yang menggunakan beberapa tempat terpisah, dan perlu waktu berhari-hari. Sehingga gaung dan syiar seakan tidak begitu terdengar.
Tahun ini FASI rayon diadakan hari Ahad tanggal 26 Oktober 2008 di SMA Muhammadiyah 7 Yogyakarta. Lapangan tengah yang jadi tidak begitu luas karena di bagi dua dengan taman, di bagian selatan didirikan panggung sebagai pusat acara sekaligus sebagai tempat lomba Nasyid (Vokal Group lagu Islami) dan lomba Ikrar santri. Sedang di halaman di depannya yang tersisa digunakan untuk lomba menggambar dan mewarnai. Sedangkan untuk lomba-lomba lainnya menggunakan beberapa ruang yang tersedia.
FASI rayon kali ini sempat diwarnai kekacauan dikarenakan faktor teknis semacam ketidaksiapan panitia dan juga faktor alam (hujan) yang sempat mengguyur beberapa saat, yang membuat kegiatan di lapangan tengah untuk sementara terpaksa dihentikan. Kekacauan disebabkan juga terjadi karena tiba-tiba terjadi pemadaman listrik yang mendadak, tentu saja hal ini membuat beberapa lomba seperti nasyid dan ikrar santri terhenti, karena praktis lomba-lomba itu memerlukan sound untuk penyelenggaraannya. Para peserta pun sudah banyak yang gelisah dan menggerutu, terutama dari salah satu TPA yang saya tidak tahu dari TPA mana yang sudah mendandani santri-santrinya habis-habisan. Alhasil ada beberapa peserta yang memilih tampil tanpa sound (acapella), ataupun dengan alat musik seadanya (rebana) seperti Masjid Kuncen, dengan ust. Ani sebagai penabuh rebana tunggal. Saya pun sebagai anggota Badko rayon juga sempat panik dan kebingungan. Saya sempat celingukan mencari dimana sang Ketua Rayon, tapi entah kenapa beliau malah raib entah kemana. Hasrat hati mau menelpon tapi apa lacur pulsa di HP saya tidak mencukupi. Kemudian saya kesana-kemari mencari orang yang mau berbaik hati memberikan pulsanya untuk saya menelpon, alhamdulillah salah satu teman ustadzah TPA Darussalam yang paling imut yaitu ust Yani merelakan pulsanya untuk saya gunakan menelpon. Kemudian saya segera menelpon PLN meminta untuk segera diadakan perbaikan, tetapi ternyata dari pihak PLN menyatakan angkat tangan karena kerusakan kali ini bukanlah kerusakan lokal tapi kerusakan dalam area yang lebih luas, sehingga tidak begitu saja dalam waktu singkat dapat diperbaiki.
Setelah menunggu beberapa saat Alhamdulillah listrik nyala kembali, dan acara pun dilanjutkan hingga selesai. Di akhir acara akhirnya kami cukup berbangga karena walaupun dengan persiapan yang yap-yapan kita dapat menyabet beberapa juara, yaitu juara I untuk Lomba Nasyid, juara III untuk lomba CCA, dan juara I untuk lomba mewarnai gambar. Dengan sendirinya 3 pemenang ini berhak untuk mewakili rayon Wirobrajan ke tingkat kota.
Keikutsertaan di FASI kota Yogyakarta
FASI kota kali ini diadakan pada hari Ahad tanggal 2 November bertempat di SMP Muhammadiyah II Yogyakarta. Beberapa hari menjelang hari H saya sempat dibikin khawatir karena berturut-turut beberapa santri peserta lomba Nasyid berjatuhan sakit. Diawali oleh Alyn yang tiba terkena cangkrangen (cacar air), menyusul Anggi yang kemudian demam dan panas badannya, dan yang terakhir Devi yang sakit juga bahkan juga sampai pelaksanaan lomba masih sakit. Sedangkan vokalis utama Laudia dan juga Dhea alhamdulillah sehat-sehat saja.
Menjelang keberangkatan kamipun sempat bingung di mana mencari sewa kostum nasyid yang murah meriah, biar bisa menghemat biaya. Akhirnya atas saran teman Meko kami mendapatkannya di tempat Bapak Udan Sore (nama yang aneh..), sebuah tempat persewaan kostum milik putrinya mbak Yana yang seorang guru tari. Disitu kami mendapatkan kostum berwarna segar dan lembut (pink dan putih) dengan harga sewa yang cukup murah meriah. Thanks friend........
Pada waktu hari H kamipun berangkat walaupun dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Peserta yang berangkat kali ini adalah Huda, Angga, Rio (lomba CCA), Anggi, Alyn, Devi, Dhea, dan Laudia (Lomba Nasyid). Sedangkan untuk ustadz/uztadzahnya yaitu Ust. Yani, Putri, Anis, Elita, Woro, dan saya.
Di tempat lomba sebenarnya saya tidak tega melihat kondisi beberapa santri. Alyn masih kelihatan sekali bentol-bentol cacar airnya, Devi pun masih lemas tidur di pangkuan Bu Mar ibunya. Tapi yahh...bagaimana lagi.
Kami mendapatkan no undian 28 untuk lomba nasyid, nomer yang lumayan belakang. Akhirnya setelah menunggu sekian sampailah juga pada nomor kami. Saya dan teman-teman ustadz yang lain sempat sport jantung dibuatnya ketika melihat penampilan anak didik kami. Karena dari mereka berlima hanya Alyn saja yang pernah mengikuti lomba ini di kota. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, menurut saya mereka bernyanyi sudah lumayan bagus, bahkan lebih dibandingkan ketika di kecamatan.
Untuk lomba selain Nasyid sudah saya pasrahkan ke beberapa teman ustadz untuk mengawasinya, jadi saya sendiri tidak begitu mengetahui perkembangannya, kecuali untuk Tarisa yang mewakili lomba gambar, karena lokasi lombanya yang bersebelahan dengan lokasi lomba nasyid memungkinkan saya untuk sebentar-sebentar menengoknya. Menurut prediksi saya, melihat dari prestasi anak ini yang sudah menasional, dan hasil pewarnaannya yang di atas rata-rata peserta lainnya, dia pantas mendapat juara I (nggak nyombong lo, fakta berbicara kok).
Sehari setelah FASI selesai saya mendapatkan informasi para pemenang lomba. Untuk lomba mewarnai seperti dugaan saya Tarisa menyabet juara I, sedangkan untuk CCA kali ini mereka belum beruntung (tidak apalah, saya angkat jempol dengan semangat mereka; dengan keterbatasan mereka, mereka tidak pantang menyerah), sedangkan benar-benar surprise bagi kami adalah tim Nasyid yang menyabet juara III, menyingkirkan sekitar 25-30 tim nasyid lainnya. Alhamdulillah, bagi kami ini benar-benar prestasi membanggakan sekaligus mengharukan, mengingat persaingan yang begitu ketat, juga kondisi kesehatan anak-anak yang kurang mendukung waktu itu. Bahkan boleh dikatakan ini adalah terobosan tidak hanya bagi keikutsertaan kita di FASI tapi keikutsertaan Rayon Wirobrajan di FASI, karena seumur-umur sepertinya baru kali ini Rayon Wirobrajan dapat menembus tiga besar untuk cabang lomba Nasyid.
Akhir kata
Yahh....semoga prestasi anak-anak TPA Darussalam tahun ini di FASI 2008 tidak berhenti sampai di sini saja, semoga ini semua dapat menjadi penyemangat kembali bagi kita semua, terutama ustadz/ah yang saat banyak yang mungkin sudah mulai menurun ghirohnya. Dan semoga juga kita senantiasa disadarkan oleh Allah SWT, agar hal in tidak membuat kita menjadi takabur, dan bahwa segala prestasi ini bukanlah segalanya, karena sesungguhnya lomba yang sebenarnya adalah amar ma'ruf nahi mungkar, berlomba di dalam mengajak pada kebaikan (ma'ruf) dan menjauhi keburukan (munkar).
(Cahyo'08)